Skip to main content

Mengapa Etika Itu Penting?



 Seiring dengan perkembangan zaman, semakin banyak bahasa gaul atau yang juga disebut bahasa prokem yang terus bermunculan. Hal ini terjadi karena berkomunikasi menggunakan bahasa gaul ini membuat anak zaman sekarang menjadi lebih kekinian dan keren. Kata gaul muncul pertama kali dalam korpus bahasa Melayu (Malay Concordance Project), tepatnya dalam naskah Hikayat Amir Hamzah bertarikh 1380. Kata itu muncul bersanding dengan kata bercampur. Bercampur gaul bermakna ‘bergaul, bermesra, bersahabat dgn’ (Kamus Dewan Edisi Keempat, 2007). Sementara, kata gaul sendiri dimaknai ‘campur; baur’.  Dari definisi tersebut, dapat terlihat fungsi bahasa gaul, yaitu bersahabat atau berbaur. KBBI (2007) mendefinisikan bahasa gaul sebagai ‘dialek bahasa Indonesia nonformal yang digunakan oleh komunitas tertentu untuk pergaulan’.

   Dikutip dari badanbahasa.kemendikbud.go.id, bahasa gaul dianggap wajar karena sesungguhnya menggunakan beberapa pola yang teratur dalam pembentukan kata baru dan mengadaptasi kata-kata serapan, baik dari bahasa daerah maupun bahasa asing, dan tidak menabrak pola gramatikal bahasa nonstandar dalam bahasa Indonesia. Bahasa gaul justru memberikan keaktifan, daya ekspresi, dan cap kosmopolitan sehingga menjadi daya tarik bagi anak muda untuk mempelajari bahasa Indonesia dan menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari.
      Namun, di era modern ini, banyak orang terutama para anak muda kurang memperhatikan penggunaan bahasanya dan perilakunya di media sosial. Kata-kata kasar yang tidak patut untuk dikeluarkan juga sering terlontar ketika sedang berbicara. Ketidaksantunan dalam berbicara dapat menyebabkan kesalahpahaman antara pihak yang sedang berkomunikasi. Seringkali, kata-kata yang dikeluarkan seseorang menyinggung perasaan orang lain karena kata-kata itu mungkin terlalu kasar, berisi hinaan, melecehkan dan menyakiti perasaan orang lain. Hal ini dapat mengakibatkan munculnya pertengkaran, perselisihan bahkan penyerangan antara pihak yang sedang berkomunikasi. Lebih parahnya lagi, penutur jarang menuturkan kata “maaf” setelah menyinggung perasaan mitra tuturnya.
      Anak muda memang bebas berekspresi, namun juga harus bisa beradaptasi. Kita harus sadar terhadap etika yang berlaku dalam penggunaan bahasa tersebut. .Kita harus sadar akan batasan dan norma yang ada, walaupun tidak tertulis. Kita dapat menggunakan bahasa gaul dalam komunitas atau perkumpulan tertentu secara baik dan benar. Tetapi, tidak berlaku pada acara-acara formal dan resmi, seperti seminar, forum, serta pada lingkungan umum. Dengan menggunakan bahasa yang baik berarti kita harus lebih peka terhadap siapa lawan bicaranya agar pesan dapat tersampaikan dengan baik. Penggunaan bahasa gaul terhadap orang yang lebih tua sangatlah tidak sopan dan merusak moral bahasa Indonesia. Perlu diingat juga, jika kita menyinggung perasaan orang lain, coba untuk meminta maaf terhadap orang tersebut. 
       Pada dasarnya, bahasa tersebut terbentuk dari latar belakang sosial dan budaya masing-masing individu. Bahasa anda mewakili identitas asli anda. Fungsi awal bahasa yang anda lontarkan adalah untuk mengekspresikan diri, bukan wadah untuk menjatuhkan dan bertikai.  Bahasa Indonesia sendiri awalnya dirancang sebagai persatuan, bukan bahasa permusuhan. Mari manfatkan bahasa Indonesia untuk menarik minat masyarakat mempelajari bahasa Indonesia untuk tujuan positif!


Comments